
LDII ku kembali hadir setelah sekian lama vakum. Ternyata, ketika kita menaruh pena kita serta merta keinginan kita menulis juga semakin sirna. Aku kembali merasakan beratnya hati ini untuk kembali mulai membagi. Tapi mengingat misi ku dulu, juga setelah berbincang dengan umi terkasih, akhirnya aku kembali meneruskan celotehku. Tanpa panjang lebar, selamat menikmati.
Tidak terasa waktu terus berjalan, Haidar telah menjadi seorang anak yang gesit meskipun mungil. Kelas 2 SD dia sekarang di tempatnya yang baru. Apa yang telah terjadi dimasa lalu telah membentuk dirinya menjadi seorang sosok mandiri yang tidak ingin merepotkan keluarganya. Lokasi rumah barunya yang memang terpencil membuat dia terbiasa untuk bermain sendiri dan mencari berbagai cara untuk membuat hari demi hari terlewati dengan ceria, dalam kesendirian. Yah kadang dia bermain dengan adik perempuannya yang sangat mungil, atau kadang dengan kakak perempuannya. Pak Baddar sendiri setiap harinya menghabiskan waktu untuk bekerja dan bekerja mencari nafkah sehingga hampir tidak ada waktu untuk sekedar mengobrol dengan anak-anaknya. Bahkan mungkin Haidar sendiri tidak ingat apakah pernah bapaknya berbicara dengannya.
Dengan uang yang diberikan oleh kedua orang tuanya sebesar Rp. 150 sehari, Haidar bisa menyisihkan jajan sebesar Rp. 50. Uang segitu waktu itu bisa dipakai untuk membeli satu gelas es, atau 1 buah jajanan. Dia tidak pernah mengeluh atau bermuram durja apabila dia tidak bisa membeli banyak hal seperti teman-teman sebayanya. Jika dia terlalu nekad untuk membeli mainan seperti yang lain, niscaya dia akan menebusnya dengan berjalan kaki pulang ke rumahnya. Sebuah perjalanan panjang naik turun gunung lewat lembah dan ngarai untuk bisa sampai ke rumahnya. Sebuah perjalanan yang beberapa kali musti dia lakukan.
Dia pun tidak mengeluh ketika tangannya harus menerima hujaman pensil yang dilayangkan musuhnya ketika dia berusaha melindungi adiknya dari kenakalan anak kampung tetangganya. Patahan dari pensil itu terus bersarang di bawah pangkal ibu jarinya sampai sekarang sebagai kenang-kenangan masa lalu. Begitu pula ketika matanya harus terkena jotosan kakak kelasnya yang ada dikelas 6 secara tidak sengaja, sehingga selama 3 bulan matanya harus diperban karena korneanya terluka, Haidar tidak pernah mengeluh pada keluarganya.
Sekolah yang ada didaerah itu adalah sekolah negeri yang tentu saja memiliki keunikan yang biasa ada di daerah. Seperti contohnya treatment yang special kepada siswa yagn mempunyai kekerabatan dengan pejabat sekolah selevel kepala sekolah. Sehingga dari sejak kelas 1 SD sampai 2 SD, Haidar yang selalu mendapatkan nilai 10 di setiap ujiannya, tidak pernah mendapatkan ranking 1 atau 2, karena posisi itu selalu ditempati oleh kedua anak kepala sekolahnya hahahah.
Dengan umurnya yang masih belia, dia pun untuk pertamakalinya sudah dihadapkan dengan ketidak adilan yang dilakukan oleh seorang preman disekolahnya yang sudah bertahun-tahun tidak lulus sekolah. Meskipun orang lain yang dia perjuangkan, meskipun semua siswa dikelas itu terdiam ketika dia harus berjuang mati-matian membela mereka, dengan tubuh mungil menggigil menerima hujaman pukulan dari seorang bocah besar yang 5x lebih besar badannya. Meskipun dengan tubuh terguncang menangis sesunggukan, Haidar terus melawan sekuat tenaga di depan kelas, di depan semua, sampai akhirnya guru pun datang dan menyidang sang preman sekolah dan Haidar akhirnya meraih kemenangannya dimana sang preman berikut konconya akhirnya menghormatinya.
Semua hal terjadi, tanpa keluarganya mengetahui. Haidar sudah terbiasa sendiri. Sekolah alam yang diberikan Alloh kepada Haidar tidak hanya menerpa dia di sekolah, bahkan dalam keluarganya. Sebuah kejadian yang Haidar sendiri sampai sekarang tak pernah mengerti kenapa dia harus menerimanya. (bersambung)






Comments
Add new comment