LDII Ku 12 - Panggil Aku Tuan Besar

"Kamu semua harus tunduk dibawah aku! Kalo kamu semua macam-macam, saya bantai! Panggil aku Tuan Besar!"
Demikian kata Badang, seorang kakak dari Haidar yang memang ditakuti oleh semua orang. Bukan hanya oleh lingkungan sekitar rumah itu saja, namun seluruh kota dikaki gunung itu tunduk dibawah penguasaan dia.

Seperti yang telah diketahui pembaca sebelumnya, Haidar adalah anak ke 18 dari 20 bersaudara. Dengan kakak yang berjumlah puluhan, semuanya seolah lengkap berasal dari berbagai profesi. Sebagian sudah mengaji, sebagian belum. Ada yang jadi DRS atau DRA lulusan universitas tinggi ternama dengan nilai yang tinggi, ada yang menjadi muballigh/muballighot, adapula yang aneh bin ajaib menjadi preman seperti Badang ini.

"Dar! Ayok maen petak umpet!", demikian kata Badang pada Haidar yang waktu itu baru berumur 6 tahun saja. Yang tentu saja langsung disambut dengan suka cita oleh Haidar kecil yang waktu itu kesepian dirumah karena ditinggal oleh ibunya ke pasar.
Dan bermainlah mereka, seorang anak kecil dengan sang kakak preman yang kasar berbadan besar. Saling mengendap-ngendap, saling menyergap. Saling intip, saling kejar dan kemudian digebuk!
Tidak begitu lama, suasana menjadi tegang, sunyi, senyap dan mencekam. Haidar bersembunyi dibalik pagar, merayap-rayap seperti seorang tentara bertahan hidup dari serangan musuhnya. Tak ada lagi senyum diwajahnya, keringat mengalir dilehernya dibarengi oleh wajah tegang. Haidar terus mengawasi lingkungan luar rumahnya yang sangat luas sambil mengurut2x punggungnya yang kebiruan. Permainan itu telah berubah menjadi usaha untuk bertahan hidup!

Dari jauh, dia lihat Badang kakaknya mengendap-ngendap dengan membawa sebilah kayu bambu tajam. "Mati aku", demikian pikir Haidar. Dia lihat beberapa buah pohon rimbun disebrang halaman begitu menjanjikan untuk menjadi tempat persembunyian. Ketika momentnya tepat, dengan kekuatan dan kecepatan berlari berkali-kali lipat - karena di dorong oleh kekuatan bertahan hidup - Haidar berusaha sekuat tenaga meraih pohon yang dituju. Pohon tempat dia menggantungkan harapan bertahan hidup!.

Segera setelah dia mencapainya, dia naik dan membenahi pohon yang mempunyai buah kecil2x warna kuning itu untuk menjadi tempat buat dia berlindung. Akhirnya dia pun bisa santai dan beristirahat dengan tenang. Dia pun menarik nafas panjang dan melepaskan ketegangan yang sedari tadi tertahan di rongga dada. Waktu terus berjalan.. dan Haidar mulai dihinggapi kekhawatiran.. kapan kah dia bisa turun dari pohon itu???
(Bersambung)

Comments

tidak mengapa lah, kita menunggu kelanjutan ceritanya pak...

By wanita desa (not verified)

Add new comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.