LDII Ku 13 - Tuan Besar Murka

Haidar membenahi dahan dan ranting tempat dia bersembunyi di atas pohon. Serta merta dia merasakan kenyamanan tak terhingga ketika punggungnya menempel di jalinan dahan dan ranting yang telah dia susun. Dia cukup bangga dengan tempat persembunyiannya ini. Sebuah pohon yang rindang di atas sebuah bukit kecil dekat rumahnya. Sambil tiduran, dari atas pohon dia bisa melihat suasana sekitar. Angin sepoi-sepoi begitu semilir membuai dan sejuk. Tarikan nafas Haidar lambat laun semakin pelan mengiringi hembusan angin yang menerpa pohon tersebut dengan lembut. Dan akhirnya Haidar pun terlelap di atas pohon.

Angin semilir semakin dingin, temaram matahari kemerahan di ufuk barat, sore menjelang dan burung-burung pun mulai kembali ke sarangnya. Berganti shift dengan kelelawar-kelelawar yang mulai terbang berkeliling berputar-putar diangkasa. Haidar terbangun dalam sebuah sentakan kesadaran yang tiba-tiba saja menyergapnya. Hampir saja dia terjatuh dari pohon itu, untung saja jalinan ranting dan dahan kecil-kecil yang dia buat begitu padat dan rapat. Bekas-bekas dahan dan ranting terlihat di badan, tangan dan pipinya. Mengerja-ngerjap dia pejamkan mata, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi. Bila ketika dia telah ingat jika dia baru saja selamat dari kejaran kakaknya Kak Badang, dia pun sadar dan kembali mengawasi lingkungan sekitar.

Hari telah menjelang sore, dilihatnya rumahnya tidak lagi sepi. Setelah dia yakin bila ibunya telah pulang dari kota, dia pun turun dan langsung menghambur kedalam rumahnya.
"Ibuuuu!!!", dia dekap erat sang ibu sekuat yang dia bisa.
"Kenapa nak? Kamu tuh baru ditinggal ke kota saja seperti ditinggal lama", demikian kata ibunya sambil tersenyum.
Haidar tak menghiraukan apa yang disampaikan oleh ibunya, dia hanya ingin merasakan hangat, tenang, aman dan kenyamanan yang ada sekarang saja.
"Emang ada apa nak? Kok tumben kamu aneh gini?", demikian tanya ibunya sambil memicingkan mata.
"Gak bu, gak ada apa-apa, tadi Haidar ketiduran di atas pohon hehehe", demikian kata Haidar. Sama sekali tidak mengatakan apa yang telah terjadi tadi siang.
Lain halnya kak Mei dan seorang lagi kakaknya yang lain Kak Deni, mereka terlihat mencurigai sesuatu. Mengawasi Haidar dari jauh namun akhirnya terdiam tanpa berkata suatu apa ketika Haidar sendiri sepertinya telah melupakan apa yang terjadi tadi siang dan mewariskan kepenasaran bagi kakak-kakaknya yang lain.

Malam pun menjelang, burung hantu bersahut-sahutan di seputar rumah. Jangkring pun tidak mau kalah membalas dengan penuh semangat. Tentu saja kodok di kali sebelah rumah bagian bawah tidak mau ketinggalan. Pak Baddar terlihat bersiap-siap untuk mengaji di tengah kota bersama sang istri. Jarak antara pengajian dan rumah sekitar 40kilometeran, dimana mereka harus melewati naik turunnya gunung dan gelapnya hutan yang mengapit jalan dari daerahnya menuju kota.
Namun terlihat pak Baddar begitu semangat dan tidak terlihat berat dimuka istrinya. Dan tidak begitu lama, terdengarlah suara motor besar CB membelah kesunyian malam mengantarkan sepasang suami istri ini untuk mengaji.

Kembali ke dalam rumah, terlihat Haidar sedang asik bersantai di atas kasur, sambil memeluk radio jadul besar warna biru. Memutarkan lagu dari Wahyu OS dan Ramana Purba. Sedangkan Kakaknya Mei dan Deni sedang asik membaca-baca buku di ujung kedua ranjang. Mei saat itu duduk di kelas 6 SD sedangkan Deni duduk dikelas 1 SMP.
"Assalamualaikum!!", terdengar suara keras memberi salam dari Badang membuat kaget seisi rumah. Terlihat Haidar berusaha menyembunyikan perasaan khawatir, tegang dan gelisah yang menderanya dengan terus berusaha mengiringi lagu yang dia dengar dengan suaranya yang sumbang.

"Heh! Kemana saja kamu tadi siang hah?! Kurang ajar! Ngilang sampe lama!", Badang langsung menghardik tanpa basa basi ketika melihat Haidar ada di dalam kamar. Haidar menjawab dengan cuek untuk menutupi ketakutannya.
"Kan namanya juga petak umpet bang, yah ngumpet lah! hehehe", demikian katanya dengan cuek. Tapi ternyata, jawaban dari anak kecil kelas 2 SD begitu membakar amarah Badang. Serta merta dia menginjak kepala Haidar di atas radio tip yang sedang dia peluk.
"Ngumpet kamu bilang?! hah?! Ngumpet??!! nih makan ngumpet! mau ngumpet kemana lagi hah?!", demikian hardiknya.
Semut pun bila di injak pasti akan melawan untuk bertahan, demikian pula Haidar. Haidar berteriak kesakitan dan melepaskan diri dari injakan kakaknya dikepalanya. "Sakit tahu!!", tapi rupanya hal itu malah membuat amarah Badang semakin menggelegak. Mei dan Deni terperanjat dan membelalakan matanya. Keanehan dan kepenasaran mereka terhadap gerak gerik Haidar yang aneh terjawab sudah. (bersambung).

Comments

Add new comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.