
Banyak orang bertanya apakah yang diceritakan oleh LDII ku kisah nyata atau bukan? Saya tekankan lagi disini, cerita ini adalah kisah nyata. Nama dan beberapa informasi memang benar dirubah untuk menjaga privasi dari nara sumber. Tidak perlu panjang lebar, silahkan di nikmati sambungan dari episode sebelumnya.
Mata Badang mendelik demi mendengar teriakan dari Haidar yang seolah menantang. Dan tanpa omong panjang lebar, dengan sepenuh tenaga dia melayangkan tinjunya terhadap Haidar. Badang seorang preman penguasa kota tersebut dengan badan gempal dan kekar melawan adiknya Haidar dengan tubuh kerempeng kurus kecil dan masih duduk di kelas 2 SD.
Haidar entah bagaimana caranya, dengan kekagetannya yang sesaat ketika melihat tinju itu melayang kearahnya, dia langsung mengendap dan membiarkan tinju itu melayang di atasnya dan menghajar lemari yang ada dibelakangnya.
"Brak!!!!", lemari itu hancur lebur berkeping-keping ketika tinju yang dilayangkan Badang menghantamnya. Haidar berdiri bergetar dengan mata nanar melihat kedahsyatan kejadian yang ada di depan mata. Sungguh mustahil untuk bisa mengelak kedua kalinya. Bisa mengelak pada serangan pertama saja sudah merupakan mukjizat baginya. Mei dan Deni pun seolah merasakan kaki mereka terpaku ditempatnya. Tak bisa bergerak dan tak bisa pula berkata-kata.
Haidar akhirnya memejamkan mata dan merasakan kesunyian yang sangat mematikan disekitar rumah. Ketika suara lemari hancur itu bergema, burung hantu, jangkrik, tokek dan kodok yang sedari tadi koor berpaduan suara serta merta diam dan bersembunyi entah kemana.
Haidar hanya diam disana, pasrah dan siap menerima apa yang terjadi.
Ketika suasana tiba-tiba menjadi sunyi dan sepi, Badang seperti terkaget dalam buaian mimpinya yang liar. Dia melihat kayu-kayu yang berserakan dan adik-adiknya yang terlihat diam beribu bahasa. Dia pun membalikkan badannya dan pergi.
Haidar akhirnya diboyong oleh kakaknya duduk di atas kasur, dan dia pun menurut dan terduduk lemas. Puing-puing yang berserakan dirapihkan oleh Mei dan Deni dengan tanpa berkata-kata. Haidar pun hanya terdiam saja dan akhirnya tertidur. Dia tidak menangis, dia tidak mengeluh, semuanya dia simpan karena dia tidak mau menjadi beban keluarga.
Setelah Badang melakukan perbuatannya yang kurang terpuji, akhirnya dia pergi kembali ke rumahnya yang terpaut oleh 2 bukit kecil dari rumah bapaknya - Pak Baddar - yang baru saja dia labrak. Dengan menaiki angkot jurusan kota yang dia pegang, Badang membelah kegelapan malam menyusuri jalan yang sunyi. Badang sendiri tidak habis pikir kenapa dia begitu mudah meledak marah. Tapi dia langsung mengibas-ngibaskan kepalanya tak ingin dibebankan oleh pikiran yang menurut dia remeh temeh.
Setelah 15 menit perjalanan, rupanya dia tidak menuju ke rumah istrinya. Tapi ke sebuah rumah lain yang lebih dekat ke kota. Ketika dia datang dan menuju pintu, seorang wanita dewasa menghambur keluar dari rumah tersebut dan langsung menggelayut dengan mesra di tengkuk Badang.
"Abang... kemana aja sih.. saya kan rindu... ", demikian katanya merajuk-rajuk dengan manja.
"Maaf tadi abang bekerja dahulu, ayok masuk rumah, nanti ada yang lihat", demikian katanya terhadap wanita tersebut. Seorang wanita yang tidak jelas siapa adanya dan bukan pula istrinya.
Malam terus beranjak pelan, angin semilir dingin dan suasana yang sepi semakin membuat kedua insan yang tidak mempunyai ikatan pernikahan tersebut semakin tenggelam dalam lembah nista.
Pagi mulai beranjak siang. Hiruk pikuk kehidupan yang menggeliat diwaktu pagi berangsur-angsur mulai tenang seiring beranjaknya waktu menuju siang. Terlihat dibawah sebuah tanjakan yang curam, seorang sopir dan kernetnya sedang berusaha menyalakan mobil angkot yang sepertinya mogok.
"Sialan! Haram Jadah! Gimana bisa dapat setoran ini?! Dasar sial!", demikian sumpah serapah keluar dari mulut seorang lelaki gempal yang tidak lain adalah Badang.
Dia bersama kernetnya berusaha keras untuk menghidupkan kembali angkot yang mogok tersebut, sampai suatu ketika terdengar suara mesin angkot yang terbatuk-batuk.
"Nah, ayok sip! udah jalan nih! kita cari duit!", demikian teriakan keras Badang mengalahkan deru suara mesin angkotnya yang terdengar kasar.
Merayaplah angkot tersebut secara perlahan melalui tanjakan curam tersebut. Pelan, berat, suara keras mesin dan terlihat seperti oleng. Benar saja, dalam waktu singkat ketika angkot itu hampir mencapai puncak tanjakan, mesin tiba-tiba terhenti! Badang yang terkaget berusaha memakai rem tangan supaya mobil bisa terhenti dan tidak terjerembab kebawah. Namun sial memang sedang mendera Badang hari itu. Mobil terlihat oleng kiri-oleng kanan terus bergerak kebawah karena curamnya tanjakan tersebut. Dan tiba-tiba, gerakan bergeserknya mobil ke bawah tanjakan semakin lama semakin cepat dan tanpa bisa ditahan, mobil tersebut akhirnya seperti bola yang menggelinding dengan derasnya! Berputas-putar dengan Badang didalamnya. Kernetnya sendiri meloncat dan beruntung masuk ke lumpur sawah dijurang yang ada disamping jalan tanjakan tersebut. Namun nahas bagi Badang, dia terjebak dibalik kemudi angkot. Dan dalam keadaan angkot terbalik bagian depan hancur, dia pingsan dan terlihat darah membasahi celana jeansnya.(bersambung)






Comments
Add new comment