LDII Ku 15 - Tuan Besar Mencoba Insyaf

Kemuning matahari di pagi hari, burung beterbangan bersenda gurau berpasang-pasang. Udara begitu segar dan orang-orang sibuk beraktifitas memulai hari. Disuatu rumah sederhana terlihat seorang wanita kampung dengan penuh sabar merawat sang suami yang baru saja mengalami kecelakaan. Yup, itulah rumah Badang di kampungnya dimana dia dirawat sekarang oleh sang istri setia.

Sang istri - Amah - bukan tidak tau bila Badang ada main dengan wanita lain, dan juga bukan tidak tahu dengan kalakuan suaminya yang ugal-ugalan. Tapi sebagai seorang istri yang sholihah dia hanya bisa menasehati dan mengarahkan suaminya saja tanpa bisa berbuat banyak. Namun, disinilah letak kekuasaanNya Alloh, setiap Badang melakukan perlawanan dan kedholiman kepada istrinya, selalu saja adzab Alloh menerpanya. Dan kali ini, pembalasan dari Alloh itu lebih berat dibanding waktu-waktu yang lalu.

"Tobaaat.. tobaat Mah, Aku gak akan lagi hianati kamu, tobat..", demikian katanya Badang lirih. Amah hanya terdiam saja dan terus merawat Badang. Dia sudah terbiasa di khianati, apa yang disampaikan Badang tak pernah dia simpan dalam-dalam dan dia sendiri sudah bersiap diri bila suatu ketika Badang kambuh lagi dengan ugal-ugalannya. Badang sendiri terlihat duduk di lantai, selembar daun pisang terlihat menampung biji pelirnya yang pecah dan keluar dari bungkusnya(maaf). Dengan memakai alas dari daun pisang itu, dia merasakan dingin dan nyaman sehingga bisa mengurangi sakit yang dia rasakan.

Tidak begitu lama, kabar celakanya preman kota tersebut berkembang kemana-mana. Beberapa orang yang selama ini punya masalah dengan Badang merasakan bila ini waktu yang tepat untuk meminta pertanggung jawaban. Begitu pula pikiran 2 orang warga yang selama ini merasa telah dirugikan karena uangnya yang dipakai usaha bersama hilang karena ruginya usaha bersama Badang. Kedua orang ini pun akhirnya datang berpura-pura menjenguk Badang sambil menagih janji.

Singkat cerita sampailah mereka ke rumah Badang disambut dengan keramahan yang tidak dibuat-buat oleh sang istri. Tampak mereka berbasa-basi sampai akhirnya mereka meminta Amah untuk pergi meninggalkan mereka karena ada urusan rahasia yang perlu di selesaikan.
"Dang.. ", demikian kata salah seorang dari mereka dengan penuh hati-hati.
"Begini... bukan maksud kita kurang sopan dan kurang ngerti nih, tapi kondisi sekarang lagi benar-benar kepepet. Kamu kan udah celaka, mau mati pula, kami khawatir bila hutang mu tidak di lunasi, nanti kami sama sekali tidak akan mendapatkan kembali uang kami."
Baru saja sang tamu selesai bicara itu, tanpa bisa ditahan dan hanya dalam waktu singkat, terdengarlah teriakan dari rumah Badang!
"SETAAAAN!!! ANJING!!! Lihat ini biji guwa!!!", Badang teriak dahsyat memekakkan telinga, semua orang sekampung diam beribu basa saling pandang, burung2x lansung berhenti berkicau, ayam pun berhenti berkotek saking kagetnya! Badang dengan murka menunjukkan biji pelirnya yang moncrot di depan tamu-tamunya sambil berteriak-teriak penuh amarah.
"Lihat nih! lihat! udah kaya gini elo masih kagak ngarti! orang susah malah tambah dibikin susah! Apa guwa kagak tau utang gua hah?! Kalo elo berdua kagak minggat, tunggu saja nanti pembalasan guwa!!", demikian teriaknya lantang dan terdengar keseluruh pelosok kampung!

Hari menjelang siang di kampung Bangsri dimana Badang dirawat dirumahnya. Dan dua orang makhluk terlihat lari terbirit-birit seperti dikejar setan keluar dari kampung tersebut di iringi gelegak tertawa orang sekampung.

"Badang...", demikian kata ibu Haidar ketika dia menjenguk kembali untuk kesekian waktunya bersama Haidar. "Sudah berapa kali kamu celaka seperti ini, apakah tidak bosan nak? Gak ada kata terlambat, ayok mengaji bersama-sama ama bapak mu, nanti kamu bisa lebih tenang, tidak usah lagi memikirkan pekerjaan atau apa. Lihat istrimu walaupun sudah di dholimi oleh kamu berkali-kali, mustinya kamu sukur kalo istrimu terus setia.". Badang tidak bisa berkata apa-apa ketika berhadapan dengan Ibunya. Dia luluh dan tunduk 100% bila ibunya yang berbicara. Walopun ibunya berkali-kali dia tipu, dminta uang dan semacamnya, entah kenapa dia sama sekali tidak punya kuasa untuk melawan.
"Iya bu... nanti Badang akan coba berubah bu.."

Demikianlah percakapan itu terjadi ketika Badang telah baru saja sembuh dan bisa terduduk di rumahnya. Setelah percakapan itu, dia pun mulai berubah. Dia berusaha untuk bekerja dengan baik-baik kepada orang lain, meskipun bos yang memperkerjakannya masih juga sedikit takut-takut terhadap dia. Dia pun akhirnya mulai ikut mengaji di Lemkari (waktu itu LDII masih bernama Lemkari) dan mulai menerima nasihat-nasihat agama. Demi melihat suasana yang baru, semangat yang baru dan hal yang baru, mata hatinya seperti dibukakan oleh Alloh. Dia semangat sekali untuk mengaji dan mengikuti segala kegiatan yang diadakan oleh organisasi.

Namun keimanan itu memang sesuai dengan dalilnya, yazidu wa yankusu (kadang naik kadang turun), demikian pula Badang. Dan penyebab lepasnya iman di hati juga mungkin hanya sepele saja dan diluar persangkaan kita semua sebagai manusia. Keimanan itu bagai ballpoint yang hanya dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah, begitu renggang maka lepaslah hidayah.

Sore itu dikampung tetangga, disebuah lapang main bola, terlihat masyarakat berduyun-duyun menonton permainan sepak bola. Kedua tim dari kampung bersebrangan tersebut bertemu dalam sebuah pertandingan persahabatan dalam rangka menyambut 17 Agustus, hari kemerdekaan RI. Terlihat badang menjadi salah satu pemain dari kampung Bangsri. Pertandingan pun berlangsugn dengan seru. Penonton dari kedua belah pihak mulai saling mengejek dan mencemooh seiring semakin panasnya pertarungan di lapangan.
"GOAAAAAAL!!!!!", teriak membahana seketika memecah ketika tim dari kampung Bangsri berhasil menjebol gawang lawan. Penonton berhamburan ketengah lapang berteriak-teriak bersuka cita. Tidak ketinggalan dengan Badang yang waktu itu berperan sebagai back. Dia mengacung-ngacungkan sisir yang dia bawa dibelakang pantatnya sambil beteriak-teriak kegirangan.

"Wah pak, lihat si Badang! bawa golok!", salah seorang penonton yang timnya kalah melihat Badang yang mengacung-ngacungkan sisir dari jauh seolah orang yang mengacung-ngacungkan golok!
"Wah jahanam tuh orang, mentang-mentang preman, emangnya kita takut!", demikian yang lain menimpali. "Kita labrak aja yuk, masyarakat kan kumpul semua ini, ayok kita labrak!", demikian kata yang lain menimpali dengan hati panas karena timnya baru saja kalah. Serta merta dengan tanpa bisa di tahan lagi, tiba-tiba ratusan penduduk berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk pada Badang! "Tangkaaaap!!! Penjahat bawa golok!! karungin!! sikaaat!!", demikian mereka bersahut-sahutan sambil berlari menuju Badang dan meninggalkan kerumuman orang yang sedang merayakan kemenangan. Semua orang kaget dan terperangah, Badang terkaget dan akhirnya langsung lari tunggang langgang sambil di kejar-kejar massa.

Malam begitu tenang dengan suara jangkrik mengiringi. Kunang-kunang beterbangan ikut menyemarakkan suasana malam dengan gemerlap bintang. Suara bayi terdengar menangis di keheningan malam. Suara berasal dari suatu rumah di pojok kampung Bangsri yang ternyata adalah rumahnya Badang. Terlihat di dalam rumah ada Ibu Haidar dan Haidar yang menjenguk anaknya.
"Woi! hik! nih kenalin ibu guwa! hik.. sama adek guwa hik! Dia kerja di Perusahaan Terbesar di Indonesia hik! hahahaha", demikian kata Badang memperkenalkan Haidar dan Ibunya kepada kedua orang temannya. Badang berkata sambil diselingi cegukan karena mabuk oleh minuman alkohol yang sedang ditenggaknya. Dua buah botol minuman kosong terlihat ada disampingnya. Kedua temannya tak begitu lama langsung mengundurkan diri ketika melihat perbawa dari ibu Haidar yang berwibawa, tenang dan menyeramkan bagi mereka.
"Mah, anak kita kasih nama RESTU! hik!", demikian katanya sambil disela ceguk mabuknya. "Biar dia jadi seperti Ibu ku ini! Hik! Walopun ditipu terus-terusan, tetep aja baik ama guwa! hik!".

Haidar menyengir kuda, Amah istrinya mesem-mesem, sedangkan Ibunya geleng-geleng kepala saja.

Comments

Add new comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.