
Sudah lama sekali LDII Ku tidak mengupdate website ini berhubung kesibukan saya di RL. Ternyata-nyata setelah kita lama gak nulis, berat sekali untuk mulai kembali. Godaan-godaan seperti, "buat apa sih bikin tulisan kek gitu.. orang lain juga gak ada yang mikirin", terus terlintas di benak ini. Namun setelah merenung kembali misi yang diemban dan ingat, akhirnya muncul kembali motivasi yang sempat redup tak ada api ini. Cerita kali ini melanjutkan kisah Haidar yang akhirnya harus kembali ke rumah sebelumnya.
Haidar tanpa terasa telah menginjakkan kakinya di kelas 3SD. Saat itu, peternakan itik punya pak Baddar - bersama temannya seorang china yang baik hati yang biasa dipanggil um Pongo - harus gulung tikar. Semua pekerja pak Baddar terlihat menangis merasa kehilangan pak Baddar. Entah kenapa, meskipun pak Baddar keras dan jarang bisa becanda, para anak buahnya sangat menyayanginya. Banyak warga di sekitar peternakan itik itu yang terangkat dirinya dari lembah kemiskinan menjadi mandiri. Pak Baddar berikut sang istri dengan setia terus mengsupport dan mendorong warga sekitar untuk bisa mandiri meskipun mereka bukan warga LDII.
Dari para pekerjanya, ada yang beralih profesi menjadi tukang jahit, ada yang jadi peternak, ada pula yang menjadi petani. Jangankan pekerja pak Baddar yang mempunyai ikatan emosional terhadapnya, bahkan tukang bakso tulang yang menjadi langganan keluarga itu pun terlihat tersedu-sedu menangis. Sungguh aneh memang.
Haidar pun tak jauh berbeda. Para guru menyesali kepergiannya, apalagi teman-teman sebayanya. Begitu pula kelompok preman sekolah yang telah berubah menjadi pendukung dan pelindung kaum lemah, mereka berlomba-lomba untuk menunjukkan simpatinya dan melambai-lambai tangan ketika truk dengan muatan peralatan rumah Haidar meninggalkan kota kecil itu. Yup semuanya berubah dengan baik pada akhirnya.
Ditengah deru mesin diesel dengan truk yang bergoyang-goyan, Haidar menatap nanar jauh kedepan meninggalkan lambaian tangan teman-temannya. Entah masa depan apa yang akan ada di depan sana. Untuk kesekian kalinya, Haidar berserta keluarga kembali pindah mencari peruntungan di tempat lainnya.
****************
"Ya anak-anak, perkenalkan ada murid baru, namanya Haidar", demikian ucap Bu Susi memperkenalkan Haidar di sekolahnya yang baru di sebuah kecamatan kecil di kaki Gunung Mencong. Haidar di sebelah guru tersebut mengerling dan melebarkan pandangan ke seluruh kelas, terlihat badan mereka besar-besar dan yah.. terlihat lebih rapih penampilannya dibanding di tempat sebelumnya dia sekolah. Namun pandangan matanya terhenti pada sesosok badan tinggi besar, berpenampilan baju sekolah lusuh tapi rapih yang terlihat masa bodoh dengan linkungan sekitarnya. Sosok itu terlalu cuek dan sangat mencolok bedanya dibanding murid sekitarnya.
Haidar kembali teringat dengan pengalaman buruk yang sebelumnya dia alami. "Gawat", dia pikir. Kalo sampe dia harus kembali bentrok dengan anak ini, tidak bisa seperti dia dulu melawan preman sekolah di kelas 2SD. Kali ini badannya sungguh besar dan sudah seperti anak dewasa!. Haidar tersadar dari lamunannya dan "Gawat!", kata itu lagi terbetik di benaknya ketika ternyata tempat duduk yang kosong yang tersisa hanya ada di depan lelaki dewasa yang tak pantas sekolah di kelas 3 sd ini.
"Hei..", Haidar terkaget ketika sebuah sapaan terdengar dari belakang kupingnya ketika dia baru saja duduk. Dia tau banget kalo suara itu milik seorang lelaki dewasa berseragam SD yang ada dibelakangnya. Haidar memalingkan muka menatap langsung mata jernih polos tak berdosa dari lelaki itu. Lelaki itu memajukan tangannya mengajak salaman, "Nama saya Asep", demikian katanya dengan suara yang nyaman di dengar. "Haidar", sebuah suara kaku keluar dari mulutnya yang kelu. Haidar kembali menghadap ke depan dengan sensasi hangat yang aneh menjalari badan.
Singkat cerita, kelas 3 SD ini hampir selesai dilalui dengan tiada persoalan berarti. Asep yang dikira haidar akan menjadi momok menakutkan ternyata jauh dari yang dia sangka. Asep tiada lain adalah seorang anak yang entah telah berapa tahun tertahan disekolah itu susah sekali naik kelas. Tidak ada yang mengerti siapa dia, darimana dia berasal dan apa yang ada di benaknya. Yang mereka lihat semua, Asep sepertinya hanya menganggap sekolah seperti sebuah tempat singgah tempat dia bersantai saja.
Ketika menginjak dikelas 4, Haidar langsung menempati ranking 2 dan kembali bisa menunjukkan bila dia patut diperhitungkan. Dengan kondisi keluarganya yang terlihat semakin serba tersendat, tak pernah sekalipun Haidar meminta dibelikan buku ataupun dipenuhi keperluan sekolahnya. Bila kedua orang tuanya bertanya, baru dia menjawab, bila tidak, yah dia cukup mengerti dan diam. untuk bisa jajan dan membeli beberapa kebutuhan, Haidar pun tanpa terasa telah menjadi agen tukang jual keripik dari keripik yang dibawa temannya. Dari kelas ke satu kelas, dia tanpa malu menjajakan dagangannya hanya demi mendapatkan keuntungan beberapa puluh perak saja.
Dan entah bagaimana pula, Asep yang selama ini masa bodoh dengan pelajaran, ternyata bisa cocok dengan Haidar dan mulai mencoba belajar. Walopun dia selalu menempati ranking terakhir, setidaknya dia tidak lagi tertinggal kelas. Asep pun terlihat berusaha keras untuk tidak ketinggalan oleh rekan-rekan kelasnya. Kelas Haidar pun menjadi kompak dengan Haidar sebagai ketua kelas. Beberapa trophy sekolah mulai diraih berkat kekompakan murid-murid kelas tersebut. Sudah beberapa kali pula Kelas Haidar mewakili perlombaan baris berbaris dan mendapatkan nilai yang memuaskan. Guru-guru pun tambah kagum dan bingung kenapa Haidar yang mungil dan kecil itu bisa mengendalikan sekelompok murid yang badannya 3 atau 4x lebih besar darinya! Makanya tidak heran pula bila ada kelompok yang kurang disiplin, selalu akan diserahkan kepada haidar untuk dijinakkan!
Namun entah kenapa, semua murid itu tidak ada yang marah dan menolak untuk dihukum oleh Haidar jika bersalah. Dan terlihat mereka menikmati hari demi hari dengan Haidar. Sebagai sahabat, yang selalu diperhatikan sepenuh hati oleh Haidar. Perhatian yang jarang mereka dapatkan selama ini.
Sekolah ini merupakan bantuan pemerintah dengan program inpressnya pak Harto. Dan lucunya, sekolah ini berdempetan dengan satu sekolah SD lain yang berstatus swasta. Lapangan olah raganya pun hanya satu dan dipakai bergantian oleh kedua sekolah. Namun ternyata, kedua sekolah ini selalu bersaing, baik dalam segi pendidikan, maupun pengaruh terhadap lingkungan. Haidar kecil sama sekali tidak mengerti adanya konflik yang terjadi, sampai akhirnya ada suatu kejadian di suatu hari.
Sore itu, para murid diminta untuk mengikuti less yang diadakan oleh guru yang dicintai oleh murid2x kelas Haidar, namanya Bu Wiwik. Pelajaran sore itu sudah usai, anak-anak kelas berlarian mengisi waktu tersisa dengan bermain-main. Haidar entah mengapa malah tertarik pada segerombolan pemuda dari sekolah tetangganya yang membawa pemukul kasti menuju ke balik kelas di pojok lapangan yang tersembunyi. "Wah, mau main kasti ya? mau kemana mereka?", dengan penuh penasaran Haidar pun mengikuti.
"Suruh pergi anak-anak itu! Atau kamu saya hajar!", terlihat salah satu pemuda tersebut ternyata sedang mengancam Asep. Tangannya terlihat mencengkram leher baju Asep. 5 orang pemuda lain terlihat mengerumui Asep dan siap mengeroyoknya.
"Ini lapang milik bersama, ayok lah biarkan mereka bermain", demikian suara Asep.
"Masa bodoh dengan mereka! Pokoknya kamu harus pergi bersama teman-teman mu!", demikian suara pemuda yang lain. Asep terlihat tidak bergeming, dengan tenang dan tanpa emosi dia hanya menepis beberapa pukulan ringan dan tamparan yang berusaha menyentuh dirinya. Asep begitu tenang dan terlihat tanpa emosi. Sampe suatu ketika salah seorang dari mereka mengayunkan dengan sekuat tenaga pemukul kasti yang dia bawa ke kepala Asep dengan kekuatan penuh!
"Haidar menganga demi melihat apa yang terjadi di depan mata ketika dia baru saja tiba, dia melihat dengan kepala matanya sendiri bagaimana pemukul kasti itu terayun dan memukul bagian belakang kepala Asep. Semuanya terlihat seperti slow motion saja. Dia pun melihat bagaimana pemukul kasti itu hancur berantakan ketika berhasil menghajar kepala Asep. Namun apa yang terjadi?
Asep alih-alih mengelak atau melawan mereka, matanya malah melotot khawatir terhadap Haidar yang ada di depannya! Haidar tidak tinggal diam, dengan serta merta dia berteriak dengan suara kerasnya yang terkenal kencang.
"Woooi!!! Asep diserang!!! Woooi!! Asep diserang!!!", ke enam pemuda itu terlihat kaget bukan kepalang. Anak2x kecil yang mereka pikir akan takut ternyata malah berbondong2x dengan tiada takutnya dengan komando dari Haidar berusaha untuk melindungi Asep. Puluhan anak-anak laki dan perempuan terlihat merangsek! Sedangkan Asep pun terlihat tenang tidak membalas serangan mereka. Hati mereka pun ciut dan akhirnya lari tunggang langgang. Asep sendiri bukannya sibuk untuk melawan mereka, dia malah semakin tambah khawatir ketika anak2x kecil yang jauh umurnya dibawah dia semakin mendekati dia. "Sana mundur! mundur! sudah aman! tidak ada apa2x!", demikian katanya dengan panik. Terlihat dari bola matanya yang polos dia berkaca-kaca, mulutnya tersungging sedikit senyum dengan kepala benjol besar bukan kepalang di belakang kepala. Dia akhirnya berdiri diam melihat anak2x kecil itu berlari-lari disekitarnya.
Berita tentang berhasilnya SD Inpress itu mempertahankan diri tersebar dari mulut ke mulut. SD Inpress itu pun tidak pernah lagi mendapatkan gangguan dari sekolah tetangganya yang ternyata selama ini telah menjadi tradisi untuk selalu mengganggu SD tersebut. Asep menjadi kakak pelindung bagi anak-anak itu, begitu pula bagi Haidar. Keluasan dan kebaikan hati Asep telah terbukti berkali-kali, seperti contohnya ketika haidar tanpa sengaja membuat sebuah patahan ballpoint masuk dan menghujam tenggorokan Asep sampe berdarah-darah, Asep tetap tersenyum dan tak pernah emosi. Sampai suatu ketika, Asep tiba-tiba hilang.
Haidar merasa kehilangan tidak terkira... dia mencoba mencari tau dimana keberadaan Asep, namun ternyata tidak ada yang mengetahui keberadaanya. Tidak ada kabar, tidak ada ucapan selamat tinggal. Asep hilang bagaikan di telan bumi. Dan waktu pun terus berjalan dan sosok Asep pun tak pernah di ingat lagi.
Suatu sore di sebuah perkampungan, Haidar terlihat berjalan tertinggal diantara teman-temanya sepulang ujian olahraga yang dilakukan jauh dari sekolahnya. Sampai suatu ketika urat syarafnya menegang ketika melihat sosok yang selama ini hilang! yak, dialah Asep! Terlihat dengan badan besarnya Asep sedang berada di dalam rumah bilik reyot yang ada di pinggir jalan setapak kampung. Haidar terdiam dan tak bisa berkata apa-apa di depan jendela rumah dimana Asep berada. Asep tiba-tiba melotot melihat Haidar, kagetnya berganti dengan senyum, dan tanpa sepatah kata, Asep menutupkan jendela rumahnya.
Haidar tercenung dan terdiam meneruskan perjalanannya kesekolahnya. Dari orang sekitar telah diketahui bila Asep seorang pemuda miskin yang harus merelakan sekolahnya demi mencari sesuap nasi. Haidar berharap bila tiba saatnya nanti, dia akan kembali mencari. Namun sepertinya.. hal itu tidak pernah terjadi.(bersambung)






Comments
baca ldii ku haru
gila.. haru gw bacanya... mana nih kelanjutannya...
respon positif
Kisah2 yang menyentuh hati nurani,di era globalisasi kayak gini.
your story very good why
your story very good why never long story,make again to your friends ldii place ;i like it my family suport you; i ash you who are you;
Add new comment