
Bocah kecil menarik-menarik bekas kaleng sardencis yang diberi roda, sebuah mobil-mobilan sederhana yang dibuat bapaknya. Dialah Haidar yang saat ini begitu bahagia menarik-narik mobil kalengnya yang tak berbentuk hilir mudik di dalam rumah dan pekarangan yang sangat luas. Pak Badar terlihat berbinar-binar melihat sang anak bermain-main dengan mainan pemberian dirinya. Sebetulnya, dari contoh ini bisa kita lihat bila orang tua sangat bahagia bila anak bisa mensukuri dan memakai apa yang diberikan oleh orang tua dengan baik.
"Wah, udah sampai ke Bandung nih kalo dari pagi sampai sore jalan terus seperti ini! HAHAHA", demikian kata pak Badar dengan suaranya yang keras. Ibu Badar hanya tersenyum mesem saja sambil melirik Haidar yang terlihat asik dengan kesendiriannya.
Namun, tidak semata-mata Alloh menurunkan dalil, "Kullu Bani Adam Khoto'un", bila memang tidak terjadi hal seperti yang termaksud dalam dalil. Apalagi untuk seorang bocah tengil yang masih belom mengerti seperti Haidar ini. Nun jauh di lubuk hatinya sebetulnya Haidar sangat berharap mobil truk pengangkut yagn besar untuk jadi mainannya. Tapi karena dia tau kedua orang tuanya belum mampu membelikan, dia akhirnya memendam keinginan dia tersebut.
orang tuanya juga bukannya tidak mengetahui keinginan sang anak, mereka jauh lebih tau, namun juga tidak mengerti bila hal ini perlu di sosialisasikan kepada sang anak. Sehingga, terjadilah percakapan yang seru tanpa kata-kata terucap antara anak dan orang tua, yang tentunya akan menyebabkan kesalah fahaman tanpa sengaja.
Suatu hari Haidar meloncat-loncat kegirangan demi mengetahui bila dia akan diajak oleh ibunya untuk ikut ke pasar. Bukan masalah ikutnya yang membuat dia girang, tapi kenyataan bila keinginannya untuk membeli truk akan terjadi! Saking senangnya, dia lupa diri. Dia berlari kebelakang rumah, di ambilnya mobil-mobilan pemberian bapaknya yang terbuat dari kaleng dan dengan serta merta dia membanting-bantingkan nya mobil kaleng sial itu dengan bayangan mobil truk di depan mata!
"Jangan begitu!", terdengar suara bentakan dari pak Badar ketika dia mengetahui anaknya membanting-banting mobil yang dia buatkan dengan sepenuh hati untuk anaknya. Haidar terkaget dan tersadar akan kesalahannya. Dia langsung terdiam dan melihat kepada pak Badar, dia melihat mata sedih pak Badar yang terlihat diam tak bisa berkata apa.
Haidar menyesal setengah mati, penyesalan tiada dua yang serta merta memunculkan bayangan masa lalu dimana dia pernah dinasehati ibunya untuk jangan bikin repot keluarga ketika keluarga baru dilanda peperangan dahsyat antar saudara (baca episode: sweet memmory).
Belum cukup rasa penyesalan itu, Haidar harus menelan pil pahit lainnya. Minggu ini memang menjadi minggu ujian lainnya bagi Haidar. Keluarganya kembali ditimpa musibah ketika peternakan bebeknya dilanda kebakaran yang sangat besar!
Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pak Badar yang sedang tertidur siang diluar rumah - dengan badannya yang gemuk besar - langsung terbangun dan berlari tanpa melihat keadaan sekitar. Dia melihat bagaimana pak Badar kepalanya menghajar kandang burung besar yang kokoh dan terpental, terjerembab, terpelanting nanar. Bagaimana dia lihat pak Badar langsung berdiri dan kembali berlari sekuat tenaga dan tersaruk, jatuh terpuruk di tanah berpasir, bergelimpang penuh debu dengan muka miris dan tatapan mata tetap tertuju kepada peternakannya yang terbakar.
Haidar hanya bisa terdiam nanar tak bisa berbuat apa.
Suatu pagi yang indah, matahari bersinar cerah dengan celoteh anak-anak kecil berlari-lari riang! Demikianlah keadaan rumah Pak Badar hari itu. Banyak keluarga datang untuk mengunjungi dalam rangka silaturohim. Haidar kecil berdiri sendiri dengan mobil truknya yang indah. Dia melihat dengan mata cemburu ketika dia melihat mobil kaleng yang telah lama dia campakan ditarik beramai-ramai oleh banyak anak kecil sebayanya yang meruapakan anak-anak dari paman atau bibinya. Dia cemburu ketika melihat anak-anak itu merasakan kehangatan dan kebahagiaan dari mobil kaleng yang dia campakan.
Akhirnya direbutlah mobil kaleng tersebut, ingin dia rampas dan rasakan kebahagiaan tersebut. Namun ternyata kebahagiaan itu tak pula dia dapatkan setelah mobil kaleng itu kembali dia dapatkan.
Haidar kecil hanya terdiam dalam kesendirian, bersama sang mobil kaleng idaman.(bersambung)






Comments
ldii ku mana updatenya?
Ayok dong mas di update beritanya... saya penasaran nih...
Add new comment