LDII Ku 18 - Ketika Kemiskinan Ditertawakan

Selepas kelas 4 SD, Haidar terus melesat dalam prestasi, meskipun tetap saja moody dan sulit untuk belajar. Haidar pernah di ikut sertakan dalam perlombaan mengarang di kota itu karena karangannya yang tau-tau menyentak! 2 lembar kertas polio habis disantap dengan sebuah karangan yang benar-benar inspiring! Namun ternyata, ketika dia resmi ikut perlombaan, moodnya langsung anjlok. Walhasil karangan yang berhasil dia buat hanya sebuah alinea saja dengan jumlah baris 50 baris saja hahahaaha.

Begitu pula untuk perlombaan murid teladan, ketika dia ditunjuk menjadi wakil sekolah, moodnya kembali anjlok. Haidar memang paling anti untuk mengikuti aturan-aturan dan ikatan. Walhasil juga dia gak lolos verifikasi dan terpaut satu angka saja. Demikian pula ketika dia dan teman-temannya diwakilkan untuk ikut cerdas cermat antar sekolah, pada babak awal sih oke banget, nilai tinggi terus dan menjadi jawara. Namun sayang, ketika mencapai final, mood anjlok dan tertular lah partner di kiri kanannya hahaha.

Haidar memang hanya bisa memotivasi dirinya dengan kehendak sendiri atau lewat kejadian-kejadian yang ada disekitarnya. Kedua orang tua Haidar terlalu sibuk untuk sekedar bertanya bagaimana keadaan sekolah atau kegiatan-kegiatan apa yang di ikuti oleh Haidar. Haidar cukup paham dengan hal ini dan mengerti posisi kedua orang tuanya. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sang bapak berjalan tertatih-tatih di usianya yang senja demi menghidupi keluarga. Bagi Haidar sudah cukup kehadirannya sendiri menjadi beban bagi keluarga. Yang perlu dia lakukan adalah membuktikan diri.

Tempaan dalam keseharian di rumah membuat Haidar sosok yang selalu mencari hikmah dari hubungannya dengan lingkungan sekitar. Dan untuknya, keadaan sekolah ini adalah sebuah keluarga yang lain untuknya. Namun ada satu siswa yang selalu melecut Haidar untuk terus berusaha yang terbaik. Dia adalah Wenda, seorang anak lelaki dekil yang entah bagaiamana caranya mempunyai otak canggih yang bisa mengurai berbagai masalah rumit dalam matematika dengan mudah!

Haidar boleh menjadi ranking 1, Haidar boleh menjadi jago mengarang, Haidar boleh menjadi jago dalam IPA atau mata pelajaran apapun, tapi jangan harap untuk bisa mengungguli Wenda dalam matematika. Dalam setiap ujian, dalam setiap ulangan, selalu para guru dan para siswa menunggu dengan was-was hasil dari nilai Matematika antara Wenda dan Haidar, seolah mereka sedang mengikuti hasil undian SDSB berhadiah milyaran hahaha!
Namun selalu hasilnya diakhiri oleh sorak sorai siswa ketika ternyata kembali Wenda memenangkan pertarungan itu. Dan Haidar sungguh sangat menikmati dan bergairah dalam kelasnya ini.

-----------

Bila Wenda mendapatkan kemenangannya, dia hanya tersenyum, tak pernah berkata apa2x, memasukan nilai tersebut kedalam tasnya yang rombeng dan diam. Seperti tokoh yang cool dalam cerita-cerita kepahlawanan menurut Haidar kwkwkw. Haidar sangat penasaran dengan Wenda, apa resepnya dia bisa secanggih itu?! Apa kelemahannya dari sang pahlawan ini?!

"Oke semua! Saat ini udah biasa kan kerja kelompok di sekolah, sepertinya kita harus mencoba cara yang lain supaya tidak jenuh", demikian Haidar mulai ngoceh. Dan seperti biasa anak-anak disekitarnya bergairah untuk mendengarkan.

"Betul-betul, eh tapi.. emang mau coba cara apa lagi?", demikian kata dewi. Sedangkan bu wiwik diam saja asik menulis-nulis sambil mencuri-curi dengar anak-anak didiknya sedang berdiskusi.

"Sekarang bagaimana kita coba untuk belajar di rumah kawan kita yuk?! kita belajar di rumah wenda!", demikian katanya dengan antusias. Tak menunggu begitu lama ketika semua siswa/siswi sorak sorai menyambut usul yang gemilang itu. Namun terlihat Wenda seperti terkesiap dan terbangun dari mimpi buruk. Dia diam dan menunjukkan ketidak sukaannya terhadap ide tersebut. Dia protest dengan langsung meninggalkan ruangan kelas waktu itu juga berikut anak-anak didalamnya yang bengong bingung gak karuan ditinggal Wenda begitu saja.

----------------

Setelah kejadian itu, Haidar merasakan ada hal yang tidak beres terhadap Wenda sehingga dia begitu keberatan rumahnya dikunjungi. Akhirnya karena di dera oleh rasa penasaran yang tak tertahankan, dia bersama 4 orang temannya memutuskan untuk berkunjung ke rumah Wenda tanpa sepengetahuannya. 4 orang pilihan yang dia minta- menyetujui dan mendukung rencananya, dan berangkatlah squad bocah belagu jadi intel itu pergi mencari rumah Wenda.

Haidar dan teman-temannya telah berdiri lama di depan semuah rumah gubuk reyot dengan dinding anyaman bambu yang bolong2x. Rumah tersebut terlihat doyong dan hampir roboh. Dengan lantai dari tanah dan nyaris tidak ada sekat-sekat ruangan di dalamnya. Meskipun dia belum masuk ke rumah tersebut, dari jauh dia sudah bisa melihat isi dari rumah tersebut. Berkali-kali dia bertanya dimana rumah wenda dengan ciri2x dari Wenda, semuanya mengarahkan kepada rumah ini. Sebuah gubuk yang tidak pantas disebut rumah dibawah pohon asem yang rindang.

Setelah menunggu dengan ragu sekian lama, keluarlah sosok yang dia kenal, Wenda. Kedua anak bertatap pandang, Haidar dengan matanya yang jernih dan Wenda dengan matanya yang hampir penuh tertutup selaput putih katarak.
Demi setelah bangun dari rasa kagetnya, Haidar serta merta menghambur bersama rekan-rekannya ke arah Wenda dan mereka langsung berpelukan, tanpa suatu kata berbagi. Mereka sudah saling mengerti tanpa kata terucap.

"Sekarang kalian sudah mengerti bukan?", demikian kata Wenda.

------------

Sepulang dari rumah Wenda, Haidar tak pernah bisa melupakan ingatannya terhadap gubuh reyot tersebut. Terjawab sudah kenapa Wenda selalu terlihat dekil dengan baju yang terlihat kebesaran dan lusuh. Karena memang baju tersebut entah telah diwariskan kepada berapa orang. Terjawab pula sudah kenapa Wenda dengan badan kurus kerempeng hitam tak pernah bisa terlihat segar dan sehat karena memang untuk makan saja susah. Dan terjawab pula sudah kenapa matanya dibiarkan hampir tertutup oleh selaput putih katarak, karena memang dia terbiasa memaksakan matanya untuk terus belajar dan belajar ditengah kegelapan dengan mengandalkan cahaya dari sebuah pelita mungil di tengah ruangan rumahnya.

Wenda sudah menjelma bukan lagi menjadi sosok pesaing bagi Haidar. Lelaki tengik itu telah menjadi simbol perlawanan terhadap kemiskinan yang mendera, sebuah simbol perjuangan tak pernah lelah seorang bocah terhadap beratnya kehidupan. Seorang bocah yang menjelma menjadi pahlawan yang tak mungkin bisa dikalahkan olehnya.

Suatu hari di penghujung tahun ajaran sebuah sekolah SD.
"Nah anak-anak, untuk nilai tertinggi ujian terakhir ini jatuh kepada?????.... ", semua anak terlihat berbisik-bisik dan ada pula yang berbinar-binar matanya menunggu jawaban bu wiwik.
"Haidar!!!", demi ketika namanya keluar dari mulut gurunya, semua anak bertepuk tangan dan bersorak sorai menyambutnya. Haidar sudah di perkirakan akan mendapatkan nilai total tertinggi yang dinamakan NEM itu.
Namun terlihat semua siswa menunggu dengan tegang sebuah pengumuman lain yang telah ditunggu-tunggu selama 6 bulan ini. Nilai matematika tertinggi! Siapakah kiranya yang menjadi jawara kali ini?

Setelah menunggu sekian lama... dengan menarik nafas agak lebay seperti di sinetron-sinetron terdengarlah suara bu wiwik, "Wenda", demikian kata bu wiwik dengan mata berkaca-kaca melihat pada Wenda. Semua anak langsung melonjak berdiri bertepuk tangan dan bersorak sorai riuh rendah, sambutannya begitu dahsyat melebihi sang juara Haidar. Dan beberapa dari mereka terlihat menangis.

Wenda, bocah tengik dekil yang menjadi pahlawan mereka saat itu. Menjadi simbol bagaimana sebuah kemiskinan ditertawakan. (bersambung)

Comments

ada banyak pahlawan di sekitar kita... menjadi hikmah betapa bersukurnya kondisi kita...

By Anonymous (not verified)

betul.. meskipun gw dari ldii yang katanya sesat, gw juga merasakan hal yang sama dengan yang ditulis..
Orang kebanyakan malah ribut pusing hal2x yang gak ada artinya dibanding hikmah seperti ini...

By Anonymous (not verified)

saya bangga sebagai warga LDII biar di musuhi tapi tetap sabar,sebagai umatnya NABI,kita semua saling menjunjung tinggi toleransi beragama.

By ahmad wardoyo (not verified)

saling menghargai satu sama lain emang harus jadi patokan dasar agar kita bisa hidup tenang gue yang cuma warga islam biasa merasa jika orang menganggap LDII sesat, biasa ja,,, menurut gue semua agama atau aliran hidup kita sudah menjadi kepercayaan kita, tinggal kita sebagai manusia beakal yang punya rasa sopan sama orang lain. saya juga dulu pernah punya pacar anggota LDII, tapi dia baik sama sama saya sampai hub. kami 4 tahun , dia tinggal dibadami kota kerawang. intinya kita saling TOLERANSI ANTARA UMAT BERAGAMA.

By ita novitasari (not verified)

Add new comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.