LDII Ku 8 - Sweet Memory

LDII Ku kembali. Sedari tadi aku ingin menulis cuman berat rasanya, karena jalan hidupku sendiri semakin kusam. Namun dengan niat karena Alloh tentunya, aku berharapan pembaca bisa mengambil hikmahnya dari qodar yang berkenaan dengan ku ini. Bisa menghargi hidayah dan nikmat dari Alloh, dan selalu bisa mawas diri. Format cerita terpaksa aku rubah menjadi pihak ketiga, tidak mengatas namakan "aku" lagi untuk membuat cerita nyaman dibaca. Selamat menikmati.

Suatu pagi di kampung Gabah, seorang bocah perempuan tertawa-tawa di atas sepeda motor tua. Begitu cerah, begitu riang gembira, di timpali ramainya ibu-ibu yang sedang berbelanja di halaman, gadis-gadis kampung yang asik bercengkrama sambil mencuci pakaian, Matahari yang tidak ketinggalan untuk ikut menyemarakan suasana dengan hangat tatapannya, di tingkahi burung-burung yang berkicau senandungkan nyanyian alam yang indah.

Bocah itu adalah anak paling kecil dari keluarga pak Baddar, namanya Noni. Ya mereka sekeluarga baru saja pindah ke rumah baru di kampung Gabah, rumah yang tidak terlalu mewah tapi berkecukupan. Pak Baddar sudah tidak lagi bekerja di PEPABRI, dan uang hasil pengumpulannya selama ini di belikan rumah yang nyaman ini. Cukup nyaman bagi mereka yang merupakan keluarga besar dari 20 bersaudara.

“Niii!!!, Yuk ikut kakak yuk?! Jalan-jalan, mau?”, Noni menjawab ajakan Kandar kakaknya dengan senyum sumringah dan kata-kata yang belum bisa di mengerti sesuai dengan umurnya yang baru 1 tahunan. Haidar melihat dengan muka cemburu, “Dulu yang sering kali aku di ajak untuk jalan-jalan, sekarang ada Noni saya nggak pernah di ajak lagi.”, begitu pikir haidar. Yah memang Kandar sering kali mengajak adik-adiknya jalan-jalan, terutama Haidar dan Noni ini. Bukan semata-mata sayang saja, tapi untuk menarik perhatian perempuan-perempuan yang biasanya suka pada gemas liat Noni atau Haidar. Memang, strategy yang cukup jitu! Sebagai gantinya, Haidar dekat dengan kakaknya yang perempuan, Mei namanya.

Hari ini lain dari pada hari biasanya, baik perempuan maupun laki-laki sibuk mengurusi dirinya masing-masing, terutama laki-lakinya yang mempersiapkan dirinya untuk sholat Jumat. ada yang sibuk setrika, ada yang sibuk mandi, yang sibuk ngupil juga ada :). "Bukan ini kolor gue!", terdengar teriakan salah satu kakaknya yang membuat cukup kaget burung-burung yang sedang bercengkarama. Haidar terlihat asik saja jongkok di pekarangan sambil asik nyolek-nyolek tai ayam yang ada di depannya. “Bukan ini punya gue!”, “Punya gue mana siiiih??!!”, terdengar suara kakak-kakaknya saling menimpali. “Itu sih punya Ka Dodi! Tuh lihat, ada rendanya!”, demikian kata Tuti memenangkan kakaknya. Kandar yang tadi teriak pertama kali langsung lari sambil membawa barang yang dia sangka miliknya, sedangkan di belakang Dodi mengejarnya.

Prang!!!! Terdengar suara gelas terpecah manambah riuh suasana, sepertinya udara segar yang baru saja terasa tadi pagi terganti dengan cepatnya oleh badai yang datang tiba-tiba. Segalanya seperti kehilangan arah, burung-burung pun gelisah berterbangan menjauh. Entah gimana jadinya, tau-tau telah terjadi pertengkaran hebat di rumah, beberapa pihak saling berkelompok dan mempertahan kan diri. Ketenangan rumah nyaman itu terganggu. Haidar terjaga dari keasyikannya ngucek-ngucek tai ayam, dia tertarik pada keadaan yang tidak pernah dia temui sebelumnya, rasa kepenasarannya mengatasi perasaan was-was dalam hatinya yang tiba-tiba saja anda membuat dirinya tidak nyaman. Dan ketika dia berjalan mengendap akan memasuki rumah, Dalam kelebatan yang cepat, Haidar lihat kilatan pedang terhunus! Dia hanya terbengong saja diam terpaku dalam kekagetannya, Salah satu dari kakaknya terlihat lari menjauh masuk kampung, di kejar oleh pak Baddar dengan mengayun-ayunkan pedang samurai. Haidar bergidik, semuanya berjalan dengan cepat seakan cerita mimpi yang tak pernah nyata adanya, lehernya merinding demi merasakan ketegangan dan kegelisahan yang mulai merayapi tubuhnya yang kecil. Tangannya mulai terasa dingin, sedingin suasana yang sekarang mulai terasa. Haidar cepat palingkan mukanya ketika mulai terbayang dalam benaknya kemungkinan yang akan terjadi, dia tidak kuasa untuk terlalu jauh membayangkan, dia tidak sanggup, dia ingin melupakan.

Ketika mukanya berpaling ke tempat lain, tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah gang masuk di rumahnya, terlihat bu Siti ibunya sedang berusaha menahan pintu dari dalam, di luar salah satu kakaknya mengayun-ayunkan pacul berusaha mendobrak masuk. “Minggir! Minggir!! Mana si setan laknat itu!!!”, teriak Gugun yang berusaha mengejar Kandar yang sedang lari ke loteng. “Aaahhh!!!” terdengar jeritan lirih yang membuat Haidar terkesima! Yang menghentikan segala aktivitas yang sedang bekerja di benaknya berusaha untuk mengerti keadaan yang ada. Darah terciprat, dia lihat tangan Ibunya terkena sabetan pacul. Haidar terdiam di sana, terpaku seperti tonggak kayu yang tertanam dalam dalam tanah. Hatinya berusaha kuat untuk memalingkan pandangannya ke tempat lain, tapi dia tak kuasa, semuanya terjadi bagaikan suatu pesona yang menegangkan yang tidak boleh di lewati begitu saja. “Brak!!” terdengar bunyi pintu di dalam rumah yang sepertinya hancur luluh lantak oleh nafsu angkara murka. Haidar terjaga dari nuasa yang telah menghipnotisnya, dia berlari masuk dalam rumah, kemudian terlihat dia berjongkok di pojokan dalam rumah sana, sedangkan disekitarnya terlihat kakak-kakaknya berlari-lari seperti hilang arah, dengan tatapan mata yang tidak pernah dia kenal sebelumnya.(bersambung)

Comments

mas, ini beneran ceritanya asli? serem banget mas...:((

By intan permata (not verified)

Aku yakin akhir cerita adalah manis, sesuai judulnya Sweet Memory
Mas Haidar, sambungan ceritanya cepetan ya. gak sabar nich
AJKK

By Yanto (not verified)

sebetulnya judulnya sarkas mas, memang nanti akan berakhir indah, tapi itu terjadi puluhan tahun di depan... :)

By webmaster

Add new comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.