LDII Ku 4 - Semua Amalan Sia-Sia

LDII ku - Semua Amalan Sia-Sia

LDII ku kembali dengan kisah nyatanya lagi. Aku berusaha menceritakan dari awal bagaimana aku tumbuh di lingkungan LDII, selain menunjukkan bahwa aku juga hanya manusia biasa yang sama dengan warga diluar LDII lainnya. Juga untuk menunjukkan bila seorang yang di didik secara keras pun hampir berkali-kali masuk ke lembah penuh dosa. Tapi bukan saatnya aku berbagi cerita tentang itu. Cerita kali ini tentang bagaimana orang tuaku mendapatkan hidayah. Tidak panjang lebar mungkin pembukaan dari aku, selamat menikmati.

Saat itu ditahun 1960-1970an, keadaan Islam di Indonesia jauh dari kemurnian. Hampir tidak ada orang yang berjilbab, banyak pula yang beribadah dengan dicampur aduk hal-hal yang tidak jelas dasarnya. Namun meskipun demikian, kedua orang tuaku berusaha tetap dengan sungguh-sungguh melaksanakan kewajibannya sebagai umat Islam, terutama adalah Sholat.

Malam menjelang ketika suara besar dari motor CB dua tangki yang dikendarai bapak ku terdengar dari jauh memekakan telinga. Kami hapal betul dengan suara motor ini, motor besar jaman dulu yang pantas untuk ditunggangi oleh bapakku yang tinggi besar dan kekar. Bapak ku orang yang berpengaruh di daerah itu. Tidak ada yang berani macam-macam dengannya. Apalagi ditangannya ada bekas luka bekas tembakan peluru Belanda, dengan tubuh hitam keling dan ramut hitam kelam, sudah membuat orang-orang mengkerut hanya dengan melihatnya. Tapi mereka tidak tau kalo sebetulnya dibalik kerasnya bapakku, beliau sangat rapuh dan mudah untuk kasihan terhadap orang lain.

Ibuku menyambut bapak dengan ceria seperti biasa. Segala kebutuhan bapak sudah disiapkan dan mereka pun terlihat langsung bercakap-cakap dengan akrab. Tiba-tiba datang seorang anak kecil ke rumahku mengabarkan sesuatu.
"Om, papah nyuruh om ke rumahnya katanya... penting.. ", demikian katanya yang ternyata adalah anaknya dari adik bapakku.
"Ya udah, nanti om kesana bareng tantemu!", demikian katanya singkat.
Singkat kata, datanglah mereka ke rumah sang adik yang bernama Ramlan. Om Ramlan mempersilahkan mereka masuk dan setelah basa-basi beliau terlihat merubah nada suaranya menjadi serius.
"Ada yang ingin kusampaikan kepada kalian, dan mohon apapun yang kusampaikan jangan sampai membuat suatu hal terjadi", demikian katanya dengan tenang dan pelan.
Ibuku merapatkan pegangannya kepada bapakku dan mulai khawatir.. kenapa harus ada terjadi sesuatu? Memang ada apa? Pak Baddar dan istri terlihat penuh banyak tanya dibenaknya.
"Aku mengundang kalian sebagian adik yang sayang pada kakaknya, aku ingin mengajak kalian untuk mengaji bersama-sama aku untuk mendalami bagaimana islam yang murni itu seharusnya.", demikian katanya.
"Islam murni? lah memang saat ini yang aku kerjakan tidak murni?", demikian sergah bapak ku. Ibuku semakin khawatir dan semakin merapat kepada bapak.
"Coba sholat mu bagaimana?", demikian kata adik ku. "Siapa yang mengajari sholat mu? apakah kamu ikut-ikutan? atau hanya belajar sendiri? Kakak pake usholli kan? apakah hal itu ada dasar hukumnya dalam Qur'an dan Hadist? Kita beribadah harus sesuai dengan tuntunan Alloh dan Rosul, Quran dan Hadist! Lain tidak! Setiap amalan yang kita kerjakan itu sia-sia jika kita melakukannya tidak berdasarkan Qur'an dan Hadist!."

Bapak ku terdiam, dia geram tapi tidak dapat menjawab, hatinya gamang dan khawatir. Dia berpikir apakah apa yang dia kerjakan selama ini sudah benar atau belum. Ibuku badannya terlihat gemetar, "Pak... kok gini sih... kok gini sih", demikian katanya, tapi bapak langsung menghardiknya dengan halus, "Ssst... udah diem aja, kita dengarkan dulu... hatiku kok bergetar..", demikian katanya.
Akhirnya malam itu, bapak dan ibu diberikan nasehat agama yang panjang lebar oleh sang adik yang mempunyai perawakan lebih imut dan bekerja sehari-hari sebagai pejabat disuatu instansi pemerintah.

Beberapa minggu kemudian di suatu malam pukul 9 yang dingin puluhan kilo meter dari rumah ku. Bapak yang sedang berboncengan dengan ibu baru saja memarkir motornya disamping sebuah masjid kumuh. Saat itu dingin dan kabut menyelimuti keadaan. Tanpa disangka dan dinyana, seorang anak kecil tahu-tahu ada dihadapan dia dan dengan polosnya bertanya.
"Bapak mau apa?", dia bertanya dengan tanpa takut melihat sosok bapak ku yang besar.
"Disuruh kemari nak sama adik bapak, bapak mau mengaji", demikian kata bapakku dengan tatapan aneh kepada sang anak.
"Ooh, mengaji.. iya pak, harus mengaji, dengan mengaji bapak tau ilmunya, dengan tau ilmunya, bapak bisa beribadah dengan benar", demikian katanya. Dan tanpa berucap apapun lagi, sang anak membalikkan badan dan pergi tinggalkan bapakku yang bengong.

Bapak ku yang keras, bapak ku yang ditakuti oleh semua orang, terdiam dan terlihat untuk pertama kalinya seperti seorang yang lemah. Dengan badan gemetar dia merengkuh tubuh ibuku. Tanpa berkata apa-apa, dia menatap muka ibuku. Dan ibu tanpa bicara hanya menganggukan kepala sebagai bentuk dukungan bahwa mereka akan mencoba melalui jalan yang baru itu.

Dengan melalui jalan yang baru saja mereka temukan, ada alal rintang apakah di depan?
(Bersambung)

Comments

baca yang ini haru... terus menulis mas...

By tono (not verified)

BACAANNYA BAGUSss bgt, bisa buat penambah semangat... tp nulisnya jangan tanggung2 dong pak, jadi betee klik klik muluu..

By dewi (not verified)

Mohon maaf mba.... bukan sengaja bikin tanggung... tapi memang ini pengalaman pribadi dan diketik sendiri langsung hari ini juga.. setiap edisi lumayan lama ngetiknya :)

By webmaster

penulis cukup pinter mengantarkan cerita, serba nanggung dan bikin penasaran.... lanjutkan.... mudah2an barokah

By taufik (not verified)

Jazakallohu khoiro pak, LDII ku sebetulnya nanti akan ada cerita yang memalukan.. tapi itu perlu di posting juga biar jadi nasehat kalo hidayah itu emang sangat mudah lepas kalo kita gak baik-baik ngejaganya. Mugo Alloh paring kekuatan untuk saya terus nulis...

By webmaster

Add new comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.